Profil Pendiri Pondok Pesantren Riyadlatul ‘Ulum

KH AHMAD NURUDDIN ANNAWAWI
KH AHMAD NURUDDIN ANNAWAWI

KH. Ahmad Nuruddin Annawawi dilahirkan di Kebumen Jawa Tengah, tepatnya pada hari selasa tahun 1950. Beliau merupakan putra ketiga dari delapan bersaudara dari pasangan Bapak Darzo dan istri tercinta.

Pendidikan formal beliau hanya sampai pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang selanjutnya beliau melanjutkan study nya di pesantren Riyadlatul Uqul Kebumen Jawa Tengah, kemudian beliau pulang ke lampung pada tahun 1972 dan pada 1977 beliau menikah dengan seorang wanita sholehah yang bernama Umi Siti Thohiroh.

Dari pernikahannya, beliau dianugerahi buah hati oleh alloh swt. Sebanyak Tiga bersaudara, yaitu putra sulungnya bernama Gus Kholid Misbahul Munir dan yang kedua adalah putrinya yang bernama Neneng Nurawaliyah Fuadi Ahmad, sedangkan putra bungsunya bernama Muhammad Ali Musyafa.

Pada tahun 1978 beliau memanfaatkan tanah wakaf dari sang mertua seluas 12 meter dengan merintis sebuah pondok pesantren yang diberi nama Riyadlatul ‘Ulum. Bangunan yang pertama kali dibangun dalam pendirian Pondok Pesantren sebanyak tiga lokal yaitu yang sekarang menjadi Asrama Al-Andalusia, tepatnya disamping mushola Pondok Pesantren saat ini.

Kemudian melanjutkan pembangunan asrama putri untuk yang pertama kalinya di dekat sumur tepatnya dibelakang rumah beliau, meskipun masih terbuat dari bambu atau berbentuk bangunan panggrong (dalam bahasa jawa) , yaitu sejenis rumah panggung yang sekarang menjadi asrama Robi’ah Al-Adawiyah.

Pada saat itu keadaan ekonomi beliau sedang melemah, tetapi hal itu tidak menghalangi beliau untuk tetap mendirikan sebuah Pondok Pesantren, karena beliau merupakan seseorang yang berkemauan keras terhadap apa yang menjadi keinginannya, toh itupun untuk kebaikan dan kelangsungan umat.

Beliau adalah sosok seorang yang disenangi dan disegani oleh masyarakat setempat yang kemudian masyarakat setempat juga turut mendukung atas berdirinya Pondok Pesantren Riyadlatul ‘Ulum dan diresmikan pada tahun1980.

Santri angkatan pertama yang masuk atau mondok hanya mencapai 12 santri, yaitu Abah Miftah, Mustafa, Abah Mualim, Syaihudin Wardoyo, Abah Anshori, Rohimun dan Muhazir. Sedangkan untuk santri putrinya yaitu Rosiah, Rihimah, Towiyah, Mufliha dan Musrimah.

Setelah sekian lama menjadi pengasuh pondok pesantren, beliau diberi cobaan oleh alloh swt. Tepatnya pada tahun 1987 beliau menderita penyakit Diabetes (gula). Selama beliau sakit, yang merawat beliau adalah Syaihudin Wardoyo dan sebelum beliau dipanggil oleh Alloh SWT, beliau berwasiat kepada anaknya agar menjadi sarjana, baik itu sarjana pondok/nonformal ataupun sarjana sekolah/formal.

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Mei 1997, beliau menghembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan kenangan yang tidak akan pernah terlupakan bagi masyarakat setempat, para santri dan putra-putrinya.

Sepeninggal beliau, yang menggantikan beliau menjadi Pengasuh Pondok Pesantren seharusnya adalah putra beliau, namun karena putra beliau yang pertama yaitu Gus Kholid Misbahul Munir masih berada di pondok pesantren Riyadlatul Uqul Kebumen Jawa Tengah, maka tampu kekuasaan diserahkan kepada adik ipar Umi Siti Thohiroh yaitu Abah KH. M. Mualim Ridwan yang sampai saat ini menjadi pengasuh Pondok Pesantren Riyadlatul ‘Ulum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *